• Notice: PPDB Tahun 2025/2026
  • alakhyar@gmail.com
  • No Tlp +62 851-4338-5979
KH. MUHAMMAD SHOLEH

18

May 2025

KH. MUHAMMAD SHOLEH

abdhafid02
0 Comments
BIOGRAFI MASYAIKH
18 May 2025
Kiai Shaleh Tambakagung
Kiai Muhammad Shaleh bin Khayyar bin Baya’, merupakan seorang ulama sufi yang lahir sekitar tahun 1255 H. atau 1838 M. di Tambakagung Bangkalan. Pada usianya yang ke-12, ia menuntut ilmu di Pondok Petapan asuhan Kiai Anwar, Kiai Abdullah, dan Kiai Toyyibudin (murid Syaikh Salim bin Sumair Hadramaut, pengarang Safinah al-Najah). Kemudian menuntut ilmu di Sembilangan di bawah asuhan Kiai Muqoddas (murid Syaikh Muhammad Shaleh Ar-Rais, seorang mufti Syafi’iyah Mekkah) selama 4 tahun. 

Beberapa tahun menimba ilmu di pulau Madura, Kiai Muhammad Shaleh pergi ke Tanah Jawa untuk memperdalam keilmuan. Ia berguru kepada Kiai Abdul Mannan Tremas Pacitan, ia juga berguru pada putranya yakni Kiai Abdullah bin Abdul Mannan. kedekatan dengan dua gurunya tersebut terekam dalam beberapa manuskrip tulisannya, seperti dalam manuskrip Fathul Mu’in dan Fathul Mubin dan lain-lain. Kiai Shaleh banyak mencantumkan kode ‘فج’ (huruf fa’ dan jim) atau ‘شيخنا فج’ dalam parateks manuskrip tersebut. Dua kode ini dipastikan sebagai penanda rujukan kepada perkataan (dawuh) dua gurunya ketika Kiai Shaleh sedang mempelajari kitab-kitab yang ia tulis secara bandongan. Selain dua kode di atas, ditemukan juga istilah ‘شيخنا فجيتان’ (guru kami Kiai Pacitan) sebagai opsi rujukan taqrir lainnya.

Dalam perkembanganya, yaitu setelah Kiai Muhammad Shaleh menjadi pengasuh di Pondok Al-Akhyar, masyarakat memberi laqab atau julukan “Kiai Pacitan” kepadanya, karena setiap pertanyaan terkait persoalan agama Kiai Muhammad Shaleh selalu menjawab” “jawaban dari pertanyaan ini menurut guru saya (Kiai Pacitan), seperti ini”. 

Kiai Shaleh Tambakagung juga melakukan pengembaraan ilmu ke beberapa daerah di Tanah Jawa, di antaranya Sampurnan Gresik, Sidoresmo Surabaya, Karang Gayam Mojokerto, Tegalsari Ponorogo, dan Kediri. 
Pada tahun 1285 H. bertepatan dengan tahun 1868 M. ia menunaikan ibadah haji dan berkunjung serta berguru kepada Sayyid Ahmad Zainal Dahlan (wafat 1885 M.), Mufti Syafi’iyah di Mekkah, dan kepada Syaikh Tuan Ahmad Khatib Sambas, pendiri Tariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah yang saat itu bermukim di daerah Suq al-Lail. Kiai Shaleh mendalami ilmu sufisme Islam lewat tarekat kepada Syaikh Khatib, dengan dikenalkan dengan perilaku sufi (khirqah sufiyah) dan ajaran Tariqah Qodiriyah Naqsabandiyah, dan baiat serta talqin tarekat terebut. Selain itu, ia juga berguru kepada Kiai Abdus Syakur, ulama asal Surabaya yang telah lama bermukim dan mengajar di Mekkah, dan Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, mahaguru Ulama Nusantara yang memiliki ratusan karya kitab. 

Panjangnya pengembaraan ilmu yang dijalani oleh Kiai Shaleh, menghasilkan berbagai tulisan dalam beberapa bidang keilmuan, seperti Tafsir Jalalain, Al-Lujainu al-Dani Fii Manaqib asy-Syaikh Abdul Qadir al Jailani, Kaifiyah Dzikir Saman, Amalan Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Hillul Ma’qud min Nadzmi al-Maqshud, Syarah as-Samarqandi, fath al-Muin, Fath al-Mubin, Syarh Umm al-barahin, dan ratusan teks lainnya.. 
Belum ditemukan penjelasan secara pasti mengenai tahun wafat Kiai Shaleh. Namun, diperkirakan usianya tidak kurang dari 71 tahun, dihitung dengan kelahiran anak bungsunya pada tahun 1332 H. Kiai Shaleh dimakamkan di Maqbarah Kolak yang terletak tidak jauh dari Pesantren Al-Akhyar Tambakagung.

0 Comments

Leave a Comment